Jumat, 19 Desember 2008

WELCOME TO THE NEW YEAR

MUHARAM
MUHARAM adalah bulan pertama dalam tahun Islam (Hijrah). Sebelum Rasulullah berhijrah dari Makkah ke Yathrib, kiraan bulan dibuat mengikut tahun Masihi. Hijrah Rasulullah memberi kesan besar kepada Islam sama ada dari sudut dakwah Rasulullah, ukhuwwah dan syiar Islam itu sendiri.

Pada asasnya, Muharam membawa maksud 'diharamkan' atau 'dipantang', iaitu Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Namun demikian larangan ini ditamatkan setelah pembukaan Makkah (Al Baqarah: 91). Sejak pemansuhan itu, umat Islam boleh melaksanakan tugas dan ibadat harian tanpa terikat lagi dengan larangan berkenaan.
dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah.

Sesiapa yang membaca doa ini, syaitan berkata:
"Kesusahan bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini dan Allah binasakan aku satu saat jua. Dengan sebab membaca doa ini, Allah ampunkan dosanya setahun."

Berikut adalah Doa Akhir Tahun:
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya.
Ya allah, sesungguhnya pada tahun ini aku telah melakukan laranganMu tetapi aku masih belum bertaubat sedangkan Engkau tidak reda dan melupai perkara itu. Engkau telah menangguhkan azabMu yang telah ditetapkan kepadaku. Engkau telahmemerintah supaya aku bertaubat dari kesalahan itu. Sesungguhnya pada hari ini aku memohon keampunan dariMu, ampunilah aku dan apa yang telah aku lakukan pada tahun ini yang Engkau redai dan Engkau janjikan pahala maka aku memohonnya daripada Engkau. Ya Allah, Ya Karim, Ya Zaljalali Wal Ikram.
Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah, tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam...Amin...
Waktu membacanya:
Doa akhir tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah. Sesiapa yang membaca doa ini maka akan berkata syaitan, "Kesusahan bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada tahun ini dan Allah akan membinasakan aku pada saat itu juga. Dengan membaca doa ini allahakan engampunkan dosanya setahun."
DOA AWAL TAHUN
dibaca 3 kali selepas maghrib pada malam satu Muharram.
Sesiapa yang membaca doa ini, syaitan berkata:

"Telah amanlah anak Adam ini daripada godaan pada tahun ini kerana Allah telah mewakilkan dua Malaikat memeliharanya daripada fitnah Syaitan."
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya.
Ya Allah, Engkaulahyang kekal abadi untuk selama-lamanya. Demi kelebihanMu yang Maha Agong dan kemurahanMu yang melimpah, sesungguhnya pada tahun ini aku memohon kepadaM perlindungan daripada syaitan yang direjam, dari sekalan kuncunya, tenteranya dan penolongnya. aku juga memohon perlindungan daripada nafsu amarah yang sentiasa mendoong ke arah kejahatan danmelalaikan dengan perkara yang tidak berfaedah daripada mendekatkan diriku kepadaMu.
Selawat serta salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. serta ahli keluarga baginda dan paa sahabat. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam....Amin...
Waktu membacanya:
Doa ini dibaca 3 kali setelah masuk waktu maghrib pada malam 1 Muharram, Sesiapa yang membaca doa ini maka akan berkaa syaitan, "Telah amanlah anak Adam daripada godaanku pada tahun ini kerana Allah telah mewakilkan dua malaikat untuk memeliharanya dari fitnah syaitan."

Senin, 15 Desember 2008

CERPEN Aku dan Dia

-Aku dan dia duduk di bawah pohon di tempat acara reuni sekolah. Cahaya siang membuat semua kelihatan terang. Sangat jelas kondisi dia, sejelas aku yang bertemu dan duduk di hadapannya.

Dulu, berawal dari teman biasa yang selalu diiringi dengan canda dan tawa. Tapi terkadang juga diselingi dengan perdebatan yang dasyat diantara aku dan dia, sampai membuatnya menjadi benci kepadaku walau cuma sebentar.
Namun kini aku dan dia tanpa tersadar, bahwa kami bukan sekedar teman biasa. Kami saling memberi dan saling melengkapi. Hingga timbul rasa resah dan gelisah bila ia tak nampak untuk bersuara. Dan entah mengapa rasa rindu itu datang padaku, sedangkan dia sangat jauh di sana. Sudah bertahun-tahun kami bersama untuk menikmati hidup yang semakin rapuh digerus waktu. Tapi akhirnya ia pergi meninggalkan aku sendirian dalam meneruskan hidup yang tinggal beberapa tahun lagi. Dua tahun lamanya ia tak terlihat untuk mambuatku tersenyum. Dua tahun juga ia tak pernah kasih kabar, apakah ia sekarang hidup bahagia ataukah menderita. Aku sendiri tak tahu.
Terdengar kabar yang di bawa oleh angin menerjang telingaku, bahwa sekarang ia hidup bahagia bersama suaminya. Dan aku sendiri tak tahu kalau sebenarnya ia sudah menikah satu tahun yang lalu, seakarang pupus sudah harapanku untuk mendapatkan cintanya yang belum sempat kukatakan.
Sudah dua tahun aku merindukannya, yang akhirnya kami dipertemukan dalam acara reuni sekolah. Di sana aku mendapatinya sedang duduk bersama teman-teman yang lain untuk berbagi cerita bersama mereka. Aku pun menghampirinya dengan rasa kangen yang sudah lama ku rasakan. Aku mulai menanyakan kabar kepadanya:
" Sudah lama kita tak bertemu, bagaimana kabar kamu selama ini? Aku harap baik-baik saja. O…ya, lupa. Aku dengar kamu sudah menikah ya? Terus, kok suaminya nggak diajak sekalian biar aku mengenalnya!"
Sebenarnya ia juga malu terhadapku, karena ia pergi meninggalkanku tanpa pamit. Sedangkan ia menikah tidak memberiku kabar. Dengan perasaan yang singgah di hatinya, ia menjawab:
" sebelumnya aku minta maaf, kalau aku dulu pergi tanpa pamit sama kamu. Sekarang aku sudah menikah dan, aku tidak mengajak suamiku karena ia lagi di luar kota sedang ada acara. Kabar kamu sendiri bagaimana?"

" seperti apa yang kamu lihat sekarang, Kalau aku baik-baik saja. Dan sekarang aku kuliah di salah satu universitas yang ada di jogja. O, ya aku boleh ngomong sesuatu sama kau? Tapi tidak di sini. Kita cari tempat yang lain!"
Di tempat yang lumayan sepi dan jauh dari teman-teman yang lain aku mengungkapkan perasaanku selama ini. Biar ia tahu bahwa selama ini aku sangat merindukannya:
" sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu, bahwa selama ini, semenjak kita masih sering bersama untuk bercanda, aku sudah punya rasa suka sama kamu. Tapi mungkin sudah terlambat, karena kamu sudah menikah. Dulu sebelum kamu pergi meninggalkanku, aku sudah berniat untuk mengatakannya. Tapi sayang, kamu sudah keburu hilang duluan. Sampai-sampai aku menyimpan perasaan itu sampai sekarang"

" maaf, kalau dulu aku pernah mengecewakan kamu. Tapi asal kamu tahu, bahwa sebenarnya dulu aku juga suka sama kamu. Tapi kamu nggak pernah tahu, padahal aku sering mengatakannya lewat gurauan. Karena aku malu, masak perempuan dulu yang menyatakan cinta. Pasti nggak pantaslah"
Perasaan yang mulai singgah dalam hatiku saat ini hanya ada penyesalan. Kenapa dulu aku nggak mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Tapi aku juga senang bisa melihat ia bahagia bersama suaminya. Dan yang penting perempuan yang sangat aku cintai hidup bahagia selalu, meskipun ia sudah menjadi milik orang lain.
Selesai ngobrol berdua, kami ikut bergabung bersama yang lain. Sambil bercerita tentang masa dulu waktu masih SMA.
Dulu waktu masih SMA aku sering jahil sama teman-teman, terutama sama yang perempuan. Sampai-sampai aku tidak tahu, kalau sebenarnya perempuan yang sering aku jahilin suka sama aku. Yakni dia.
Sudah waktunya acara untuk dimulai, dan obrolan pun dipending dulu. Sambil mengikuti acara, aku bilang sama dia kalau entar selesai acara aku ingin berdua dengannya untuk melampiaskan perasaan kangen yang sudah lama kusimpan meski hanya sebagai seorang teman.
Acara sudah usai, dan kami berdua pun pergi meninggalkan yang lain untuk berduaan mengingat kenangan yang pernah terjalin diantara aku dan dia. kami pergi menuju tempat yang dulu sering kami datangi untuk main. Di sana aku bercerita tentang kehidupanku yang sekarang:
" sekarang aku kuliah di jogja, selama di jogja aku tidak punya niat untuk pacaran. Karena aku kira kamu belum menikah, makanya aku nggak mau pacaran, selain sama kamu. Tapi semenjak mendengar kabar tentang kamu sudah menikah niatku pun pupus sudah. Yang akhirnya aku bertemu salah seorang gadis, yakni adik mahasiswa. Yang sekarang selalu menemaniku setiap saat"

" tapi kok sekarang ia nggak menemanimu diacara reuni tadi? Apa kamu takut kalau ia ntar di gaet sama teman-teman?"

" bukan itu masalahnya. Sehari sebelum acara reuni, aku sudah izin sama dia bahwa aku datang diacara reuni hanya ingin menemui kamu. Dan aku pun sudah cerita tentang kita berdua. Ia sangat pengertian,"

Hari sudah semakin sore dan lazuardi pun menampakkan wajahnya di ufuk barat. Aku dan dia akan berpisah lagi, tapi sebelum berpisah kami saling tukar nomor HP. Di perempatan jalan kami berpisah, aku ke arah barat untuk kembali ke joga, sedangkan ia ke arah timur untuk pulang ke rumah. Sesampainya aku di jogja ia SMS kalau ia sudah sampai di rumah, tapi di rumah ia masih kesepian karena suaminya masih di luar kota.
Sambil membaringkan tubuh di atas kasur dalam kost, aku SMSan sama dia hitung-hitung menemani kesendiriannya meskipun lewat SMS. Kami SMSan sampai tengah malam, sampai tinggal SMS terakhir. Setelah SMS terakhir aku memejamkan mata untuk tidur. Dalam tidurku pun ia hadir di mimpiku. Yang terlihat dalam mimpiku, ia menggendong seorang bayi. Ia persis seperti orang tua yang sangat menyayangi bayinya. Ia menyusuinya, menimang-nimang bayinya dan menina bobokkan.
Ke esokan harinya setelah aku mengisi pulsa, terus aku meneleponnya untuk memberi tahu kalau tadi malam dalam mimpi aku melihat dirinya sedang menggendong seorang bayi yang sangat menawan parasnya. Setelah aku memberi tahunya, ia juga memberi kabar yang belum aku ketahui. Bahwa sebenarnya ia sedang mengandung, dan itu pun sudah dua bulan lamanya. Betapa senangnya hatiku, karena tidak lama lagi akan ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan OM.

Kamis, 04 Desember 2008

SANG PEMIMPIN

Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?”

Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.”
“Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.”

+++++

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.

Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?

Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.

++++++

Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?”

Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ’ kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.
++++++

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.

+++++++

Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.”

“Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’”

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu.

Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini.
Amin.

CERITA HUMOR

Mahasiswa yang baru lulus dan kepepet harus cari kerja memang banyak akalnya. Ini adalah kisah nyata tentang seorang mahasiswa yang baru lulus dan berhasil mendapatkan pekerjaan bergengsi dengan gaji lumayan di sebuah instansi pemerintahan yang terkemuka.

Sebut saja namanya Wawan(bukan nama sebenarnya). Sewaktu mahasiswa, ia tidak pernah membayangkan mampu bekerja di instansi pemerintahan tersebut dan duduk nyaman di kursi kantornya yang ber-AC serta sering dinas ke luar kota dengan fasilitas menginap di hotel berbintang.

Ketika ditanya temannya bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan tersebut, padahal pelamar posisi pekerjaan tersebut pasti banyak, Erwin pun menjelaskan tips dan triknya, "Kalau melihat lowongan kerja tertempel di kampus, segera copot dan amankan, maka pasti hanya kita yang melihat lowongan tersebut dan kita pun bisa melamar tanpa saingan sehingga lamaran kita pasti diterima".

Wah, pantes aja diterima kerja, nggak ada saingannya sih.

Rabu, 26 November 2008

WHAT WOULD YOU DO IN THE NEW YEAR??

Ada rutinitas ritual 365 hari (kadang-kadang 366) sekali, pada saat jarum jam mendekati pukul 24.00 di sebagian besar belahan bumi ini. Orang banyak menyebutkannya sebagai tahun baru dan menobatkan tanggal 1 Januari sebagai permulaannya. Banyak cara untuk merayakan ritual ini. Orang biasa membeli terompet kertas atau plastik untuk kemudian bersiap-siap meniupnya, jika jarum jam mendekati pukul 24.00 tanggal 31 Desember tahun lama, yang konon juga berarti pukul 00.00 tanggal 1 Januari tahun baru.
Orang sangat beragam dalam cara dan acara perayaannya. Yang berjiwa bisnis memanfaatkan momen ini dengan menjual terompet dan produk lainnya. Mereka yang berkantong tebal biasanya menggelar acara-acara khusus menyambut tahun baru di hotel, klub malam, dan tempat mewah lainnya. Bagi mereka yang hidup sederhana, cukup buat acara sendiri dengan sesama teman, atau bersama keluarga.
Mengapa kita begitu hingar-bingar merayakan tahun baru? Ada yang dengan sinis menyebut ritual tahunan ini merupakan hasil hegemoni Barat. Padahal, umat Islam sendiri sudah mempunyai kalender Hijriyah. Karenanya, mengapa harus turut serta dalam "hura-hura" kalender yang dibuat berdasarkan perhitungan Yulius Caesar itu?
Lalu, orang menganggap sikap meniru-niru ini sebagai tasyabbuh. Ada hadits yang menyabdakan, "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut." (HR Abu Dawud) Boleh-boleh saja berpendapat demikian. Akan tetapi, perdebatan tentang hal itu hanya akan menguras energi. Barangkali, lebih baik dan bijak kita kembali pada tuntunan keislaman yang substansial. Tahun baru bukan "ritual sakral" bagi umat Islam, melainkan hanya merupakan "ritual profan" dalam kerangka momentum untuk peningkatan kesadaran manusia dalam menghadapi dinamika dunia ini.
Nah, bagi umat Islam, yang perlu diwejangkan adalah jangan sampai terjebak atau ikut-ikutan berhura-hura. Kebanyakan perayaan tahun baru selama ini menjadi ajang hura-hura. Alangkah baiknya, jika harta yang dihamburkan hanya untuk kesenangan itu digunakan untuk membantu mereka yang tengah membutuhkan atau ditimpa musibah. Apalagi, negeri kita tercinta saat ini tengah ditimpa banyak musibah di berbagai daerah seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor dan angin puting beliung.
Apakah tega kiranya kita sebagai satu bangsa ini lantas melupakan atau tak mau berempati terhadap penderitaan saudara-saudara kita itu? Harta dan kekayaan yang kita miliki jangan sampai mubazir alias digunakan hanya untuk hal-hal yang hanya bisa memberi kenikmatan sekejap saja. Alquran mengingatkan, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya." (Al-Isra':27)
Ritual kontemplasi
Sebagian aktivis Muslim menanggapi tahun baru Masehi dengan acara yang menurut mereka lebih sejuk. Yaitu, dengan menggelar acara dzikir dan istighasah bersama pada malam tahun baru. Ramai-ramai mereka merenungi apa yang telah dilakukan pada hari-hari kemarin dan apa yang mesti direncanakan tahun depan.
Tentu saja, langkah yang demikian itu sangat baik dan dianjurkan. Umar bin Khattab pernah berkata, "Hisablah diri kalian sebelum dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan berhiaslah untuk menghadapi hari penampakan yang agung." Dalam bermuhasabah ini sesungguhnya kita sedang mengorek-ngorek kedirian kita tentang apa yang sudah selama ini kita lakukan. Kita "membaca" perbuatan apa yang kita lakukan dalam mengisi hidup kita sehari-hari.
Para ulama salaf selalu melakukan muhasabah dengan menuliskan apa yang diperbuatnya dalam keseharian menjelang mereka tidur. Ibnu Arabi, seorang sufi besar dari Andalusia, bahkan menuliskan apa saja yang membuatnya lupa kepada Allah dalam hari-harinya. Sehingga, dengan cara demikian bisa menjadi pengingat untuk tidak lagi melupakan Allah dalam kehidupannya, walau sedetik pun.
Inilah, cara terbaik untuk melakukan muhasabah, yakni dilakukan setiap waktu, setiap ia merasa telah melakukan kesalahan sekecil apapun dan setiap kali ia telah selesai melakukan amal kebajikan. Tak perlu menunggu satu tahun, apalagi menunggu adanya acara muhasabah tahunan. Dalam Alquran, bukankah Allah sendiri bersumpah dengan waktu? Dalam pepatah Arab dikatakan waktu adalah pedang. Artinya, jika kita tidak hati-hati menggunakan waktu, kita sendiri yang akan binasa.
Karakteristik waktu adalah selalu bergulir dengan cepat, kerap tak terasa tiba-tiba kita sudah berada di petang hari. Alquran menyatakan, "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan (sebentar saja seperti di suatu waktu) di waktu sore atau pagi hari." (Annaziat:46) Waktu juga bersifat mustahil kembali. Kata Hasan al-Basri, "Tiada hari tanpa menyeru, 'Hai, anak Adam, aku adalah mahluk baru, dan aku menjadi saksi terhadap amalmu. Maka, berbekallah denganku, sebab jika aku sudah lewat, tak mungkin bisa kembali sampai hari kiamat'."
Waktu merupakan kehidupan yang sebenarnya. Kata Hasan al-Basri lagi, "Hai anak Adam, sesungguhnya hidup kamu adalah himpunan hari-hari. Setiap hari milikmu itu pergi, berarti pergilah sebagian darimu." Demikianlah, bila kemudian kita gayutkan dengan kenyataan yang terjadi di negeri kita, banyaknya tragedi dan musibah yang kerap menerpa merupakan i'tibar untuk menjadikan waktu ke depan dengan penuh kehati-hatian serta mempersiapkan cara yang tepat, efisien, dan lebih bermanfaat bagi hajat hidup rakyat.
Dalam hal ini, bagi para pengambil kebijakan perlu melakukan muraqabah, yakni dengan bersikap lebih cermat dan penuh kesadaran untuk membangun Indonesia masa depan yang lebih baik. Kita perlu selalu optimistis dalam membangun negeri ini. Betapapun banyak rintangan dan musibah yang datang, optimisme sepatutnya dipegang erat-erat. Optimisme ini dibangun dengan cara muhasabah dan muraqabah yang terus-menerus, sehingga jauh dari sikap keputusasaan.
Tidak ragu lagi, setiap hari adalah modal keselamatan setiap anak manusia. Tak bijak jika dilewatkan dengan hura-hura. Setiap hari harus dipersiapkan dengan baik. Setiap hari butuh semangat baru untuk hidup baru yang lebih baik. Setiap hari yang berlalu harus dihisab setiap hari. Untuk kemudian memperbaiki kesalahan hari ini agar hari esok lebih baik.
Ikhtisar
-Tahun baru banyak menjadi ajang untuk berhura-hura.
-Umat Islam jangan sampai terjebak menghamburkan harta untuk kesenangan di tengah banyak musibah.
-Perguliran waktu justru harus jadi momentum bermuhasabah, mengorek kedirian tentang hal yang sudah dilakukan.
-Berbagai tragedi menjadi i'tibar bahwa hari depan harus dipersiapkan dengan lebih baik dan cermat.
Sampai sekarang saya belum paham persis mengapa setiap tahun baru datang, orang-orang menyambutnya dengan suka cita. Terkadang –terutama di kota-kota besar—sambutan malah berlebihan. Sering kali dengan pesta pora gegap gempita.
Suka cita orang yang menyambut tahun baru itu apakah karena besarnya optimisme akan datangnya masa yang lebih cerah, atau merupakan luapan rasa lega dengan ditinggalkannya masa lalu yang parah? Ataukah itu hanya seperti kesukaan lumrah orang kepada setiap yang baru.

Padahal, bukankah tahun baru merupakan rambu-rambu penanda jarak mendekati batas akhir perjalanan hidup yang berarti pengurangan umur? Bagi orang yang menyadari batas akhir sejak melangkah dalam perjalanan hidup, seperti Sutardji Calzoum Bachri yang bersajak “maut menabungku/ segobang segobang”, tahun baru tentu tidak serta merta disambut dengan gembira. Tapi terlebih dulu dengan perenungan.

Apabila tahun yang lewat mencatat masukan-masukan positif bagi bekal perjalanan selanjutnya, maka sudah selayaknya tahun yang baru datang disyukuri. Namun apabila sebaliknya, tahun yang lalu memperlihatkan rapor buruk; maka kegembiraan menyambut tahun yang baru sungguh sulit dimengerti.

Sebagai hamba Allah yang diangkat sebagai khalifahNya di muka bumi, sudah sepatutnya, dalam menyambut tahun baru, kita merenungkan perjalanan hidup yang sudah kita lalui bagi melanjutkan perjalanan menjelang tempuhan yang akan. Jangan-jangan selama ini, kita terlampau sadar dengan kekhalifan kita hingga melupakan kehambaan. Atau sebaliknya terlalu sadar akan kehambaan kita lalu tidak berbuat apa-apa, hanya menunggu nasib dan lupa untuk apa kita diangkat sebagai khalifahNya.

Kadang-kadang kita menyadari kehambaan dan kekhalifahan kita, tapi kita kurang memahami apa yang harus kita lakukan sebagai hamba dan apa yang harus kita lakukan sebagai khalifahNya. Maka bisa saja terjadi hanya kita yang merasa hamba, sedangkan Tuhan sendiri tidak menganggap. Na’udzu billah. Atau kita merasa sebagai khalifah bumi, padahal saat demi saat kita merusaknya

Jangan-jangan selama ini kita malah melupakan kedua-duanya. Melupakan kehambaan dan kekhalifahan kita, karena kita melupakan Tuhan yang mengangkat kita sebagai khalifahNya. Dalam kitab suciNya, Allah berfirman kepada kaum beriman: “Walaa takuunu kalladziina nasuuLlaha fa ansaahum anfusahum; ulaa-ika humul-faasiquun” (Q. 59: 19), “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa akan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri; mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Orang yang lupa diri akibat lupa Allah, bagaimana bisa diharapkan ingat akan yang lain; ingat tempatnya, lingkungannya, keluarganya, saudaranya, dlsb. Orang Indonesia yang lupa diri, akan lupa negerinya, lupa bangsanya, lupa kewajibannya. Bila orang yang lupa diri ini termasuk rakyat jelata, mungkin tidak seberapa pengaruhnya terhadap kehidupan. Tapi bila dia termasuk elite, termasuk pemimpin, Anda bisa bayangkan –atau malah bisa membuktikan— sendiri betapa buruk dampak yang diakibatkannya. Bayangkan pemimpin yang lupa diri dan lupa amanah serta tanggungjawab yang dipikulnya. Bayangkan pejabat yang lupa diri dan lupa bahwa tidak semua yang ada ditangannya adalah miliknya dan bahwa dia tidak selamanya menjabat. Bayangkan orang berilmu yang lupa diri dan lupa memanfaatkan serta mengamalkan ilmunya. Bayangkan kiai yang lupa diri dan lupa maqamnya. Bayangkan …apa jadinya.

Dengan merenung, kita jadi sadar bahwa hidup di dunia ini ternyata memang sangat singkat. Kemarin baru tahun 2006, tak terasa sekarang sudah tahun 2007. Yang kemarin belum lahir, kini sudah lahir, Yang kemarin masih bersama kita, kini telah tiada. Yang kemarin belum balig sekarang sudah dewasa. Yang kemarin belum menikah, sekarang sudah punya anak. Yang kemarin …, sekarang …

Hidup di dunia ini bagaikan waktu Asar, sangat singkat. Dan perjalanan setelah itu sangat jauh. Sebelum lupa, mari kita ingat-ingat: tahun-tahun kemarin seberapa banyak kita mengumpulkan bekal dan seberapa banyak kita mensia-siakan bahkan membuang-buang bekal? Tahun ini, apakah kita akan melanjutkan pemupukan dan mengembangan perolehan positif kita bagi kepentingan kebahagiaan hakiki dan abadi kita? Ataukah kita akan terus mengulang-ulang rutinitas kesia-siaan kita; meski Tuhan bersama alamNya terus mengingatkan kita?

“Demi waktu Asar, sungguh manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasehati bagi menegakkan kebenaran dan saling menasehati untuk sabar.” (Q. 103)

Kehidupan ku

Life is struggle, struggle needs sacrifice............itu lah kehidupan yang non sense tanpa adanya perjuangan. "......kemenangan-kemenangan ilmu pengetahuan sangat kecil artinya dibandingkan dengan kemenangan-kemenangan ilmu Hidup, yang tersimpul di dalam cinta-kasih, yang menjadi hukum jiwa kita.

"Saya tahu, bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan dengan alasan-alasan. Ia akan dibuktikan oleh orang-orang yang menjalankan hukum ini dengan tak menghiraukan akibat-akibat yang mungkin terjadi bagi diri mereka sendiri. Tak ada kemajuan, jika tidak ada pengorbanan. Dan oleh karena pelaksanaan hukum ini adalah kemajuan yang terbesar, maka pengorbanan yang diberikan akan harus menjadi suatu pengorbanan yang sebesar-besarnya juga."

Dulu aku orang yang amat kecil, penuh dengan ketidaktahuan namun thanks God, aku yang dibesarkan dari seorang rahim ibu dan dibesarkan dari keluarga minor....akan tetapi keminderan tidak terus menghantui aku. Sehingga aku dapat eksis hingga kini dan dapat besar menjadi seorang sarjana jebolan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2006. Tepatnya di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidian Agama Islam...Hmm guru memang cita-cita ku sejak dulu. aku ingin menjadi penerang dalam kegelapan. Dan kini alhamdulillah sekali bisa mengabdikan pada bangsa dan negara melalui lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ichwan " SMP Diponegoro Cimanggu yang letaknya berada di Kecamatan Cimanggu mulanya...Namun akhirnya aku pun bisa mengembangkan sayapku untuk terus terbang ke ujung kulon Kabupaten Cilacap tepatnya di SMK N.1 Wanareja.

Allah memberi kita peluang yang besar untuk mendapatkan kehidupan yang lapang. Akan tetapi manusia hanya akan memperoleh kehidupan yang sempit bila menjauh dari peringatan-Nya. Bisa jadi orang menganggap kesempitan hidup hanyalah terjadi pada orang yang miskin saja. Tapi sejarah memberi pelajaran kepada kita bahwa hidup yang sempit bukan monopoli milik orang yang kekurangan materi.

Dengan iman, seseorang akan memiliki bashirah (kepekaan, ketajaman mata hati). Ia akan tahu hakikat dan tujuan hidupnya.

Sebaliknya manakala iman kurang diasah, maka kepekaan itu akan lambat laun lenyap. Ia akan melihat dunia dengan cara pandang yang salah. Dunia pun dengan berbagai macam daya pikatnya akan menipu para pencintanya. Seakan-akan yang manusia kejar adalah kenikmatan, padahal jurang yang menyengsarakan. Maksud hati menggapai kesenangan selamanya, tak pelak yang ia hadapi hanyalah fatamorgana. Jalan yang ia tempuh justru semakin menjauhkannya dari kebahagiaan yang hakiki.